Hitung mundur 10 detik terakhir menjelang batas waktu kategori 25K Merumatta Coast Trail Marathon, Minggu (8/2/2026) siang dimulai. Di antara suara pembawa acara dan peserta lain yang lebih dulu finis, terdengar suara teriakan penyemangat.
Teriakan penyemangat itu ditujukan untuk Friska Ciolita. Salah satu peserta di kategori 25K ajang lari lintas alam di kawasan pesisir Senggigi itu.
Friska berjarak sekitar 100 meter menuju garis finis. Tidak ada pilihan lain. Dengan sisa tenaga dan teriknya pesisir Sengigigi siang itu, ia harus berlari secepat mungkin sebelum pukul 13.00 Wita yang jadi batas waktu finis (Cut of Time) kategori 25K.
Tapi Friska tidak sendiri. Dua sweeper kategori 25k, Yung Intan Mheutia dan Astry Darmayanti Mandasari menggandengnya dan menemaninya berlari dengan sekuat tenaga.
Ketiganya berlari dengan pace yang paling cepat. Bersama dengan hitung mundur dan teriakan penyemangat, Friska, Tia, dan Astry melewati garis finis kurang satu detik sebelum COT.

Begitu melewati garis finis, Friska melonjak kegirangan. Teman-temannya yang sudah menunggu, ikut merayakan keberhasilan Friska melewati drama itu.
“Deg-degan. Soalnya mbaknya (Friska) tetap jalan dari masih pinggir (pantai) walaupun udah diteriakin. Akhirnya pas dia sampai di atas (menuju finis), langsung kita temenin. Saya lari udah gak liat depan saat menemani dia,” tutur Tia.
Drama menjelang finis tidak hanya milik Friska. Ada Muja Azhari di kategori yang sama, juga hampir gagal finis di sisi 25 meter terakhir. Semua berawal dari energi yang terkuras setelah melewati beberapa bukit di kategori itu lengkap dengan jari kaki lecet hingga jempol terkelupas serta setelah terkena batu cadas.
“Saya hampir tidak mau melanjutkan race (karena kondisi itu) namun karena beberapa kilo lagi finis, Waktu mepet 1 jam menuju COT, saya membuat keputusan berani tetap melanjutkan jalan dan berlari untuk race dengan kaki sebelah yang pincang,” kenang Muja.
Jika Friska hanya punya 10 detik, Muja punya 10 menit tersisa sebelum COT. Tetapi di sisa jarak menuju finis, ia benar-benar harus mengerahkan sisa tenaganya.
“Garis finis sudah terlihat jelas sekitar 25 meter di depan mata. Tetapi saat melangkah, kepala dan kaki terasa berat semua terasa berputar,” kenang Muja.

Muja sempat terjatuh. Bahkan mendapat bantuan dari panitia dan beberapa pelari lain. Beruntung, ia kembali pulih untuk melanjutkan hingga garis finis.
Tapi untuk sampai ke finis pun tidak mudah.Seperti Friska, Muja harus dipapah oleh beberapa sahabatnya dari Berari, komunitas lari di Lombok Timur. Muja finis dua menit menjelang COT. Tapi setelah melewati finis, ia tumbang dan harus mendapat perawatan tim medis.
Jalur Pedas
Drama di finis adalah sebagian dari drama sepanjang race day atau hari perlombaan Merumatta Coast Trail Marathon (MCT) yang pada 2026, memasuki tahun keempat penyelenggaraannya.
Tahun ini, menurut Race Director MCT 2026 Sri Agus Budi Santoso, peserta mencapai 765 orang dari 23 negara. Mereka terbagi dalam empat kategori lomba yakni 50K, 25K, 15K, dan 8K.
Kategori 50K memulai lomba paling awal yakni Minggu dini hari pukul 01.00 Wita. Baru menyusul kategori 25K pada 05.30 Wita, kategori 15K pada 06.00 Wita, dan terakhir kategori 8K pada 06.30 Wita.
Jika flag off kategori 50K cuaca cerah, kategori 25K diguyur hujan. Bahkan sebelum flag off oleh Bupati Lombok Barat H Lalu Ahmad Zaini, sudah turun hujan. Tetapi hal itu tidak membuat peserta kategori itu kehilangan semangat.

Mereka menunggu dengan sabar. Memanfaatkan waktu tersisa untuk pemanasan, hingga bercengkrama dengan pelari lain. Pun saat flag off, mereka penuh semangat menembus hujan dan melewati tantangan kategori 25K.
Setelah start, peserta lebih dulu menyusuri pesisir. Dalam kondisi gelap dengan penerang lampu kepala, melewati jalur pasir pantai tidaklah mudah. Energi perlahan mulai terkuras.
Dari pesisir, mereka mulai masuk jalur perbukitan. Kategori 50K harus menaklukkan Bukit Batulayar, Bukit Penanggak, masuk ke Pusuk, lanjut ke Gunung Duduk, Bukit Jahe, hingga Bukit Kerandangan sebelum menuju finis.
“Kategori 50K ini tanjakannya banyak. Rutenya ekstrem. Jadi kita harus benar-benar menyiapkan stamina dan endurance. Saya dari awal nyari aman. Sempat posisi keempat, juga kelima. Tapi di akhir-akhir, yang semula di depan pada tumbang. Alhamdulillah bisa ngambil posisi (terdepan),” kata Wildan Yusuf Furqoni, juara pertama kategori 50K putra.
Wildan tercatat menyelesaikan lomba dalam waktu 6 jam 43,8 menit. Ia disebut memecahkan rekor finis tercepat di MCT untuk kategori 50K. Sementara posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati Alessandro Sherpa RC dan Ahmed Bedair.

Peserta lain kategori 50K juga mengakui beratnya jalur kategori 50K.“Rute MCT untuk kategori 50K sangat menantang. Memerlukan daya tahan yang baik dan mental untuk dapat menyelesaikannya,” kata Joni Harianto (40), peserta asal Lombok.
Joni yang pernah mengikuti MCT kategori 15K di 2023 dan 25K di 2024 menambahkan, rute kategori 50K semakin menantang setelah masuk KM 29 atau sebelum Pusuk atau kawasan perbukitan di perbatasan Lombok Utara dan Lombok Barat. Setelah Pusuk, mulai dapat elevasi hingga water station (WS) berikutnya.
“Ujian terberatnya setelah melewati WS terakhir di Bukit Loco. Kita harus naik dua bukit lagi sebelum finis. Sementara sudah tidak ada WS lagi. Endurance benar-benar diuji. Saya bahkan sempat tertidur sama teman-teman di jalur ini sekitar 30 menit,” tutur Joni.
Alison Gauthier, juara pertama kategori 50K putri juga mengakui betapa menantangnya jalur MCT. “Dua tahun lalu saya ke sini saat kategori 50K masih loop. Lalu tahun lalu mereka ganti rutenya dan saya kembali ke sini. Saya benar-benar bahagia,” kata Alison.
Rute baru ini, kata Alison, menantang tapi menyenangkan. “Suasana hutannya bagus, juga mengawali lomba dari hotal ini selalu menyenangkan. Pokoknya, seru berlomba dengan jalur pantai, hutan, lalu jalan raya,” kata Alison.
Meski demikian, Alison mengapresiasi jalannya lomba. “Di luar masalah GPX yang kadang-kadang off dan perlu diperbaiki untuk tahun depan, lainnya bagus. Water station sangat bagus, relawan yang bertugas juga sangat membantu,” puji Alison.

Di kategori 50K putri, tempat kedua diraih pelari asal NTB Ririn Wulandari. Sementara tempat ketiga diraih Njo Sui Ling. “Jalurnya pedas. Panas. (Tapi) keren,” kata Ririn singkat.
Iza Qhuatro, juara kategori 15K putri menambahkan, tantangan yang berat ada di jalur pantai.
“Kategori 15K lebih berat di pesisir pantai karena pas berangkat 2 kilometer, lalu pas balik sekitar 1,5 kilometer. Jadi lumayan memakan waktu. Strategi saya di pesisir tadi tetap lari, tetapi pilih jalur yang agak padat agar kaki gak masuk pasir,” kata Iza yang menjadi juara kategori 15K putri.
Di luar apresiasi terhadap jalannya lomba, para peserta berharap MCT terus lebih baik ke depan. Salah satu masukan mereka adalah terkait marka atau petunjuk rute lomba karena membuat peserta banyak kehilangan waktu.
“Ya, beberapa kali GPX mati (tidak sesuai). Ini yang harus diperbaiki ke depan,” kata Alison.
Wildan juga mengomentari hal yang sama. “Hampir semua peserta yang diutamakan kan marking. Saya dengan juara dua dan tiga tadi berkali-kali cari jalur. Tahun lalu juga kayak gitu, nyasar-nyasar terus,” kata Wildan yang tahun lalu juara 2 kategori 25k putra.
Joni menambahkan, “Harapannya, ke depan, marking agak lebih tebal Jangan terlalu jauh. Kemudian mungkin di hari lomba, perlu ada tim untuk mengecek keberadaan marking. Karena banyak pelari yang tersesat. Saya sebenarnya tahu jalurnya, tapi karena ikut marking, juga ikut tersesat,” kata Joni.
Di luar masukan untuk evaluasi dan perbaikan ke depan, penyelenggaraan MCT 2026 patut diapresiasi. Selain daya tariknya yang terus meningkat, ajang ini juga bentuk dukungan pengembangan olahraga trail baik lokal maupun nasional. Termasuk menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Sampai ketemu di MCT 2027!

Tinggalkan Balasan